Di dalam ruangan, Lynx dan Ling Mei berada sendirian. Lynx memperhatikan wajah Ling Mei yang terlihat sangat menyedihkan. Untuk mengatasi penderitaan sementara dan menguatkan tubuhnya, Lynx menyalurkan sedikit energinya ke bagian-bagian vital tubuh Ling Mei.

"Hanya beberapa hari tidak bertemu, ternyata kamu mengalami hal menyakitkan seperti ini." bisik Lynx pelan sambil mengelus rambut Ling Mei.

Setelah mengecup dahi Ling Mei, Lynx segera melepaskan seluruh pakaian Ling Mei untuk memeriksa kondisi tubuhnya, sekaligus agar peredaran darah lebih lancar.

Kondisi Ling Mei sangat memprihatinkan. Garis-garis hitam seperti akar merambat di bawah kulitnya, menyebar dari dada hingga ke ujung jari tangan dan kakinya. Kulitnya yang biasanya halus dan bersinar kini terlihat kusam dan keabu-abuan, seolah kehilangan kehidupan. Di beberapa bagian tubuhnya, terutama di sekitar jantung, kulitnya bahkan terlihat menghitam seperti terbakar.

Napas Ling Mei sangat lemah, dan setiap tarikan napasnya terasa seperti perjuangan. Bibirnya yang biasanya merah merona kini biru kehitaman, dan keringat dingin terus mengucur dari dahinya. Tangannya sesekali bergetar, seolah tubuhnya berusaha melawan racun yang menggerogoti dari dalam.

"Racun apa ini? Kenapa kondisinya bisa seperti ini?" gumam Lynx, suaranya gemetar. Matanya menyipit saat dia mencoba menganalisis racun itu. Racun itu bukan sekadar merusak fisik, tapi juga menyerap energi spiritual dan jiwa korbannya. Setiap detik, kehidupan Ling Mei semakin meredup.

Lynx mengepalkan tangan, matanya berbinar dengan tekad. "Aku pasti akan menyembuhkanmu, Ling Mei."Suasana hening, hanya terdengar suara napas Ling Mei yang tersengal-sengal.

Lynx segera mengeluarkan sebuah kotak kecil dari cincin penyimpanannya. Kotak tersebut berukir indah yang dia dapatkan dari Walikota Huoling setelah menyembuhkan Li Mei. Di dalamnya, terdapat jarum-jarum emas yang dibuat khusus untuk akupuntur.

Dia mengambil beberapa jarum emas, ujungnya berkilauan seperti diselimuti cahaya keemasan. Dengan gerakan cepat dan presisi, Lynx menancapkan jarum-jarum itu ke titik-titik meridian vital di tubuh Ling Mei. Setiap jarum yang tertancap memancarkan energi halus, membentuk pola seperti bintang di sekujur tubuhnya.

Lynx menutup matanya, tangannya menempel di dada Ling Mei. Energi saktinya mengalir deras, menyatu dengan energi dari jarum emas. Perlahan, racun hitam yang merambat di bawah kulit Ling Mei mulai terhisap ke arah jarum-jarum itu. Garis-garis hitam itu seperti ular yang tertarik oleh magnet, bergerak menuju titik-titik jarum.

"Keluarlah," desis Lynx, suaranya tegas.

Dia menyerap racun itu ke dalam tubuhnya sendiri, menahan rasa sakit yang menusuk setiap kali racun itu berpindah. Tubuhnya bergetar, tapi dia tetap bertahan, tubuhnya yang memiliki kekebalan terhadap racun dengan cepat menetralisir racun yang memasuki tubuhnya. Energi saktinya bekerja keras, membersihkan racun dari tubuh Ling Mei sekaligus memulihkan bagian-bagian tubuh yang rusak.

Setelah beberapa saat, kulit Ling Mei yang sebelumnya keabu-abuan mulai kembali bersinar. Garis-garis hitam di bawah kulitnya perlahan memudar, digantikan oleh warna merah muda yang sehat. Napasnya yang tersengal-sengal mulai teratur, dan wajahnya yang pucat mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Lynx membuka matanya, melihat perubahan pada Ling Mei. Tangannya masih menempel di dada wanita itu, terus menyalurkan energi saktinya untuk memastikan racun itu benar-benar hilang.

"Ling Mei, kau akan baik-baik saja," bisiknya, suaranya lembut namun penuh keyakinan.

Di luar ruangan, Li Wei berdiri tegak di depan pintu, matanya waspada. "Siapa pun yang mendekat, jangan coba-coba masuk!" peringatnya kepada para murid dan guru yang berkumpul. Mereka hanya bisa mengangguk, wajah mereka penuh kekhawatiran.

"Li Wei, apakah kamu yakin dia dapat mengobati Ling Mei?" tanya salah satu tetua.

"Didunia ini, aku yakin hanya dia yang dapat mengobati kak Ling Mei. Percayalah padanya." kata Li Wei dengan penuh kepercayaan.

***

Sementara itu, di tengah hutan gelap, Shen Mo yang sedang terluka berlari kencang dengan membawa ketua Sekte dan tetua Xie yang tidak bisa bergerak, jauh dibelakangnya terlihat para pengikutnya yang tersisa berusaha berlari mengejar. Namun, tiba-tiba Shen Mo berhenti. Di depannya, tubuh-tubuh anggota klan mereka berserakan, sudah tak bernyawa. Salah seorang dari mereka, seorang immortal tingkat awal ikut terbunuh.

"Apa yang terjadi di sini?" geram Shen Mo, matanya menyala dengan amarah.

Shen Mo memperhatikan sekitarnya. "Mungkinkah orang itu yang sudah membunuh mereka semua sebelum menyerangku? Hanya dia yang mempunyai kekuatan untuk mengalahkan anak buahku."

Namun, sebelum dia sempat berpikir lebih jauh, sekelompok orang muncul dari balik pepohonan.

Dua di antara mereka adalah immortal tingkat menengah, aura kekuatannya terasa lebih kuat dari Shen Mo yang sudah terluka parah. Ranah Shen Mo yang menjadi immortal tingkat akhir karena menyerap energi spiritual para murid sekte Api Langit, justru terasa menghilang karena terkena pukulan dari orang yang menyerang mereka. Shen Mo memperhatikan rombongan yang mengentikannya terdapat beberapa grandmaster yang tampak tangguh.

"Pria tua, mau kemana kau? kau pikir bisa kabur begitu saja?" ujar salah satu immortal, suaranya dingin dan penuh ancaman.

Shen Mo, yang masih terluka akibat pertarungan sebelumnya, tahu dia tidak bisa melawan. Namun, sebagai seorang immortal, dia tidak akan menyerah begitu saja.

"Kalian pikir bisa menghentikanku?" sergah Shen Mo, tangannya mengeluarkan pedang gelap yang memancarkan aura kegelapan.

Dengan gerakan cepat, dia melesat ke depan, menyerang immortal yang berbicara tadi. Pedangnya mengeluarkan semburan energi hitam yang menghujam ke arah lawannya. Namun, immortal itu hanya tersenyum dingin, tangannya mengangkat dengan santai dan menangkis serangan itu dengan mudah.

"Kau terluka parah, pria tua. Jangan buang-buang tenagamu," kata immortal itu sambil mengeluarkan jurus balasan. Tangannya mengeluarkan energi api yang membentuk naga raksasa, menghantam Shen Mo dengan kekuatan dahsyat.

Shen Mo terlempar ke belakang, tubuhnya menghantam pohon besar hingga pohon itu tumbang. Darah mengucur dari mulutnya, tapi dia masih berusaha bangkit.

"Kau... tunggu saja dan terima balasanku kelak!" teriak Shen Mo, tangannya meraih sebuah jimat kabut hitam dari saku jubahnya. Dengan gerakan cepat, dia melemparkan jimat itu ke tanah, dan kabut hitam segera menyelimuti area sekitarnya.

"Aku pasti akan membalas kalian, ingat itu!" teriaknya sekali lagi sebelum menghilang dalam kabut.

"Biarkan dia, kita tidak perlu mengejarnya. Yang penting ketua Sekte Api Langit bersama kita sekarang." kata salah satu pria tua yang berada ditingkatan Immortal juga.

Namun, anak buah Shen Mo yang baru menyusul datang tidak seberuntung itu. Mereka terjebak dan dengan cepat dikalahkan oleh para penyerang.

Mereka lalu mendekati ketua sekte dan tetua Xie, yang ditinggalkan oleh Shen Mo dan akhirnya ditangkap oleh mereka.

"Akhirnya kita bertemu ketua sekte Api Langit, Zhao Xinyue." kata salah satu immortal.

"Siapa kalian? Apa mau kalian?" kata ketua Sekte sambil menahan rasa nyeri di dadanya. Dia sudah bisa menebak apa tujuan orang-orang yang menyerangnya, namun dia berusaha mengulur waktu dan mencari tahu identitas mereka.

"Serahkan kunci dimensi! Kunci itu tidak layak kamu pertahankan dengan nyawamu." kata pria tersebut dengan nada sinis.

"Jangan berharap. Apakah kamu tahu, pria tua yang kalian serang tadi juga memiliki niat yang sama, tetapi tetap gagal mendapatkannya. Begitu juga kalian." kata Ketua Sekte dengan tegas.

Mendengar kata-kata ketua Sekte, salah satu immortal yang hanya memperhatikan, bergerak maju dengan marah."Kita tidak punya banyak waktu, aku yakin pihak lain juga datang ke tempat ini."

Menyadari hal tersebut, immortal satunya berkata dengan marah."Katakan! atau aku akan membunuhnya." kata immortal tersebut sambil menarik tetua Xie ke arah tangannya.

"Apakah kamu ingin melihat wanita tua ini mati?" bentak salah satu immortal, tangannya mencengkeram leher Tetua Xie.

Tetua Xie yang sedang terluka dan keracunan mengerang kesakitan, tapi dia tetap diam dengan tatapan tajam penuh kebencian.

"Kalian bisa menyiksa kami sekeras apa pun, tapi aku tidak akan memberitahu apa pun, aku tahu kalian tidak mungkin membebaskanku. " kata Ketua Sekte dengan suara lemah namun penuh tekad.

Para penyerang itu marah. "Jika kau tidak bicara, kami akan menghancurkan Sekte Api Langit dan membunuh semua muridmu!"

Ketua Sekte menatap mereka dengan dingin. "Lakukan saja. Jika sekte ini hancur, berarti sudah takdirnya, tapi kunci itu tidak akan pernah kalian dapatkan." Ketua Sekte merasa yakin dengan sosok yang datang dan menolongnya. Dia hanya perlu mengulur waktu hingga pria tersebut datang

